KECERDASAN FINANSIAL…?
Istilah ini sekarang sudah populer sekali dipakai dalam obrolan, dijadikan judul buku bahkan dijadikan sebagai “kata sakti” oleh para pemasar jaringan. Sayangnya, definisi untuk menjelaskan istilah ini hampir tidak ada. Bahkan orang yang mempopulerkannya sendiri pun tidak pernah menjelaskan apa artinya kecerdasan finansial ini.
Pada intinya kecerdasan finansial berhubungan dengan sikap seseorang terhadap harta yang dimilikinya. Dalam hal mencari, mengelola, menyimpan, dan membelanjakannya.
Kecerdasan finansial selalu identik dengan kebebasan finansial. Karena kebebasan finansial atau kemerdekaan finansial adalah tujuan akhir dari kecerdasan finansial. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki kecerdasan finansial akan mencapai kemerdekaan finansial di masa depan.
Kebanyakan orang mengikuti salah satu definisi yang paling populer tentang kebebasan finansial. Yaitu “kondisi dimana penghasilan pasif yang dimiliki melebihi kebutuhan hidup”. Alhasil, seseorang sudah tidak perlu lagi bekerja secara aktif untuk membiayai hidupnya. Ia bisa bebas memilih untuk bekerja atau tidak karena kebutuhan nafkahnya sudah terpenuhi dengan adanya penghasilan pasif.
Betulkah kondisi tersebut yang dinamakan dengan kemerdekaan finansial?
Dengan rendah hati penulis melihat bahwa Islam mengajarkan yang lebih tinggi lagi definisi dari kemerdekaan finansial, yaitu “kondisi dimana uang berada dalam genggaman tangan, namun tidak ada di dalam hati”
Walaupun penghasilan pasif sudah lebih besar dari kebutuhan hidup, tapi kalau obsesi mengejar harta selalu tertanam di hati, itu tandanya belum merdeka secara finansial. Karena obsesi, tujuan hidupnya bukan karena Allah semata, namun didominasi dengan impian dunia yang materialistis.
Melepaskan harta dari hati berarti bekerja bukan untuk mengejar harta semata. Meyakini bahwa harta sejatinya adalah milik Allah swt yang diamahkan kepada hambanya untuk dikelola sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak menjadikan harta sebagai tujuan namun menjadikannya sebagai alat untuk mencapai tujuan utama kita dilahirkan. Yaitu untuk beribadah kepada sang pemilik harta yang sesungguhnya.
Memegang harta di tangan artinya menjadikan harta sebagai sumber kekuasaan dan kekuatan. Kekuasaan sebagai khalifah di muka bumi sebagaimana amanah Allah untuk kita umat manusia. Kekuasaan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Biar Mahal yang Penting Sekolah
Kita semua tentunya sepakat dengan pentingnya pendidikan anak. Bahkan dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah kebutuhan nomor satu bagi anak setelah kebutuhan dasarnya akan sandang, pangan dan papan terpenuhi.
Tidak jarang orang tua rela menghabiskan uang yang cukup besar hanya agar anaknya bisa bersekolah di sekolah tertentu yang dianggapnya baik. Tidak sedikit pula orang tua yang rela berhutang bahkan sampai menggadaikan harta miliknya hanya agar anaknya tidak putus sekolah.
Pendidikan anak memang sangat penting untuk kita usahakan biayanya, maka akan menjadi bijaksana kalau kita menyiapkannya sejak jauh hari. Langkah mempersiapkan dana pendidikan untuk anak diawali dengan memperkirakan berapa kira-kira biaya pendidikan yang akan dibutuhkannya nanti.
Sebagai gambaran, berikut perkiraan biaya pendidikan di beberapa Sekolah Dasar Islam favorit di Jakarta pada Tahun 2004:
Biaya Pendidikan Sekolah Dasar Islam Favorit Tahun 2008
No
Sekolah
Uang Pangkal
Uang Bulanan
1
SD Al-Izhar
Rp 19,5 juta
Rp 400.000
2
SD Al-Azhar 1
Rp 17 juta
Rp 350.000
3
SD Al-Azhar 2
Rp 12,5 juta
Rp 200.000
4
SDIT Nurul Fikri
Rp 11,9 juta
Rp 250.000
5
SD Muhammadiyah 6
Rp 7,35 juta
Rp 200.000
6
SD AzZahra Terpadu
Rp 6,35 juta
Rp 900.000
Menghitung Biaya Pendidikan Anak Kelak
Hitung banyaknya waktu yang dimiliki untuk menyiapkan dana pendidikannya
Menentukan angka pengali biaya (angka faktor)
Tahun
Inflasi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
7%
1.07
1.14
1.23
1.31
1.40
1.50
1.61
1.72
1.84
1.97
2.10
2.25
8%
1.08
1.17
1.26
1.36
1.47
1.59
1.71
1.85
2.00
2.16
2.33
2.52
9%
1.09
1.19
1.30
1.41
1.54
1.68
1.83
1.99
2.17
2.37
2.58
2.81
10%
1.10
1.21
1.33
1.46
1.61
1.77
1.95
2.14
2.36
2.59
2.85
3.14
Hitung biaya pendidikannya nanti
Mengajarkan Kecerdasan Finansial untuk Anak
Pendidikan formal memang sangat penting untuk masa depan anak, namun jangan lupakan kecerdasan financial yang juga tidak kalah penting. Bukankah sering kita lihat seseorang dengan banyak title namun amburadul dalam mengelola uangnya. Kita juga bisa melihat angka perceraian yang cukup tinggi di kalangan tertentu karena masalah penghasilan yang tidak seimbang, hal ini tentu menunjukkan ketidakdewasaan dalam menyikapi uang dalam keluarga.
Bahkan yang lebih mengejutkan adalah hasil survey majalah SWA bulan Juli 2004 lalu yang menyimpulkan bahwa 80% eksekutif terancam miskin di hari tua. Mereka konsumtif, besar pasak daripada tiang, investasi kacau, dan tidak siap di hari tua, begitu tulis majalah tersebut. Betapa mencengangkan.
Tidak sedikit eksekutif berdasi harus merogoh kantongnya begitu dalam setiap bulan karena terhimpit hutang kartu kredit.
Sekali lagi, kecerdasan financial tidak selau berhubungan dengan tingkat pendidikan formal. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh orang tua untuk membekali anak-anaknya dengan kecerdasan financial?
4 HAL YANG PERLU DIAJARKAN TENTANG KECERDASAN FINANSIAL:
1.Menghargai Hak Milik
Menghargai hak milik bukan berarti egois dengan sesuatu yang dimilikinya. Tapi justru seorang anak harus bisa mengerti hak dan kewajibannya terhadap hak miliknya sendiri dan hak milik orang lain. Indikatornya adalah ia meminta izin untuk meminjam & tidak membiarkan miliknya dirusak. Dalam tingkatan tertentu, anak juga perlu ditanamkan konsep harta dalam Islam bahwa semuanya hanya titipan Allah untuk dimanfaatkan dengan sebaik-sebaiknya sesuai dengan amanah yang diberikan.
2.Memberi & Berbagi
Setelah konsep kepemilikan dipahami oleh anak, ia akan mulai mengerti ada anak yang beruntung dan ada juga anak yang kondisinya kurang beruntung secara finansial. Ajari anak untuk memberi kepada yang membutuhkan dan berbagi benda miliknya. Dalam harta kita terdapat titipan dari Allah untuk kaum dhuafa.
3.Kemandirian dalam Masalah Keuangan
Kemandirian dalam masalah keuangan bukan berarti seorang anak harus bisa mencari nafkah sendiri. Tapi yang dimaksud adalah mandiri dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan uang yang dimilikinya baik, dalam hal pembelanjaan maupun simpanan. Beri kebebasan anak untuk menentukan sendiri apa saja yang akan dibelinya dan berapa yang akan ditabungnya. Orang tua hanya memberikan fasilitas dan membimbingnya dalam mengambil keputusan.
4.Membaca Peluang & Memanfaatkannya
Anak perlu mengerti bahwa tidak ada yang namanya pohon uang. Usaha harus dilakukan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Tanpa bermaksud menjadikannya komersial, dukung upaya anak untuk mencari peluang di sekitarnya. Jangan biarkan anak malu untuk menjual.
Kesalahan Umum tentang Uang
Ada banyak ajaran turun temurun dari orang tua kita yang mereka dapatkan juga dari orang tuanya. Jangan anggap bahwa semua yang diajarkan di masa lalu itu bisa kita ajarkan juga di masa kini. Terkadang, ada beberapa ajaran yang disalahartikan di masa kini sehingga perlu kita luruskan kembali, dan ada juga yang sudah tidak lagi relevan di masa kini:
1.Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah
Ajaran ini sebetulnya sangat baik sekali, namun seringkali disalahartikan. Seharusnya ajaran ini hanya dipakai dalam urusan social dimana tangan di atas (memberi) itu jauh lebih baik daripada tangan di bawah (menerima). Namun sayangnya, ajaran ini disalahartikan di semua bidang, termasuk dalam hal pembelanjaan. Akhirnya yang terjadi adalah kebanggan dalam hal pembelanjaan, bukan kebanggaan dalam hal bisnis. Kebanyakan masyarakat lebih senang belanja (spending) daripada menghasilkan (earning). Perlombaan yang terjadi adalah berlomba belanja sebesar-besarnya dan membanggakan apa yang bisa dibelinya, bukan perlombaan produktivitas dalam mengusahakan rezeki dan apa yang bisa dihasilkan. Dari sinilah konsumerisme lahir, karena lebih membanggakan apa yang bisa dibeli, daripada apa yang bisa dihasilkan (dijual).
2.Konsumen adalah raja
Jangan percaya dengan slogan ini. Slogan ini dicipatakan oleh para marketer untuk menjaring konsumen sebanyak-banyaknya. Dan menjadikan konsumen seakan-akan seperti raja. Tapi ini hanya berlaku dalam urusan pelayanan saja. Sedangkan dalam hal lain, pengusahalah rajanya. Biasanya, rakyat membayar upeti kepada raja, bukan sebaliknya raja yang membayar upeti pada rakyat. Konsumen membayar kepada pengusaha artinya pengusahalah rajanya. Bahkan konsumen memberikan “pinjaman” tanpa imbalan apapun kepada pengusaha sebesar 10% dari setiap pembelanjaannya dalam bentuk PPN. Ya, konsumen membayar barang yang dibelinya plus PPN 10%. Nantinya, PPN itu akan disetorkan oleh pengusaha pada pemerintah di bulan berikutnya, atau malah di akhir tahun fiskal. Artinya, konsumen meminjamkan uangnya pada pengusaha tanpa imbalan apapun.
3.Sisakan uang untuk ditabung
“Uang jajannya jangan dihabiskan ya, sisakan untuk ditabung” begitu nasihat orang tua ketika memberikan uang saku pada anak-anaknya. Kalau itu yang dikatakan oleh orang tua, jangan heran kalau anaknya nanti pulang dengan kantong kosong karena semua uang jajannya dihabiskan di sekolah. Percayalah, uang itu seperti air. Ia sulit sekali ditahan karena mudah sekali menguap dan mengalir. Jika ingin mengajarkan anak untuk menabung, ajarkan mereka untuk menabung di awal. Sediakan celengan atau sarana menabung lainnya sebelum ia berangkan sekolah dan menghabiskan uangnya. Tapi jangan juga dipotong langsung oleh orang tua, hal itu akan membuat anak tidak merasa menabung dan hanya sekedar pengurangan uang saku saja. Biarkan anak sendiri yang melakukannya agar ia bisa merasakan sendiri harta miliknya disisihkan di awal untuk ditabungkan.
4.Menabung pangkal kaya
Dulu, pepatah ini mungkin berlaku. Tapi sekarang, rasanya sudah tidak lagi relevan. Bagaimana akan terus berhemat kalau harga-harga semakin naik. Hemat, sekarang ini, hanya akan membuat kita tidak jatuh miskin, tapi tidak akan membuat kita jadi kaya. Perlu lebih dari sekedar hemat untuk menjadi kaya. Untuk menjadi kaya, akumulasi harta perlu dilakukan dengan cermat agar pertumbuhannya bisa melebihi kenaikan harga dan penambahan kebutuhan keluarga. Investasi adalah kata kuncinya. Hemat baik untuk mengurangi pengeluaran, namun uang yang berhasil disisihkan perlu diinvestasikan agar bisa berkembang.
Ditulis dalam Uncategorized